Masih tentang IndoHogwarts, ini post-post gue yang paling gue suka selama RP di sana. I'm so sorry if these writings make your eyes bleed, tapi bagi gue ini berhargaaaaaa.... Ah, those good ole' days ;____; *shot*
Posted by Ashley Bennett; Apr 14 2010, 09:34 PM in Surat Tahun Pertama

”For f***’s sake! Those f***ers burned out my f***in’ truck! What the f*** do they f***in’ want from me?! F***!”
“Isn’t it wonderful that we get six ‘f’ words instead of ‘good morning’ to start our day? I feel sooo energized.”
Fiona Bennett menggumam pelan seraya mengelilingi tepian mangkuk sup dengan spons penuh busa di tangannya. Dia berada di dapur saat ini—ruangan suram di bagian belakang rumah dengan langit-langit rendah dan sederet bokong-bokong panci berjelaga menumpuk tak beraturan hampir di setiap sudut—mengerjakan tugas harian mencuci peralatan makan setelah sarapan. Raungan dan makian dari arah peternakan, yang sedikit teredam oleh suara kucuran air dan decitan spons basah, terdengar lebih jelas ketika gadis itu mematikan keran. Fiona meletakkan mangkuknya di atas nampan plastik, lalu mengelap tangan sekenanya pada serbet yang tergantung di samping tempat cuci piring. Dia melenggang melintasi ruangan. Telunjuk kurusnya menarik turun tirai yang menutupi seperempat dari jendela di depannya; sesosok pria setengah botak sedang mengumpat-umpat sambil menendangi sesuatu yang terlihat seperti kerangka mobil besar.
“Ugh. You’re so lucky that he’s not your real father,” kata gadis itu sembari berbalik; lidahnya mendecak. Fiona, sama seperti keenam saudarinya, tidak begitu menyukai ayahnya—terlalu banyak saat di mana pria itu menenggak brandy daripada mengurus keluarganya; lebih-lebih peternakan. Domba-domba mereka yang terus menghasilkan wol dan ayam-ayam bertelur sama sekali tidak ada hubungannya dengan kerja keras seorang Jacob Bennett.
“… Ash?”
Pertanyaan itu terlontar saat akhirnya gadis remaja berusia tiga belas tahun itu menyadari bahwa selama ini dirinya telah bermonolog. Keningnya, yang dihiasi bintik-bintik kecoklatan seperti di pipi dan ujung hidungnya, mengerut. Adik laki-lakinya berdiri diam seperti patung di depan rak piring. Mangkuk sup yang tadi dicuci Fiona tercengkeram erat di jari-jari yang memutih. Air masih menetes-netes dari permukaan keramiknya—agak aneh, menurut Fiona. Ashley biasanya efisien dan selalu melakukan tugas-tugasnya—mengeringkan untuk sekarang ini—dengan cekatan. “Hey, you okay?”
Bocah berambut gelap yang dipanggilnya itu tersentak. Mangkuk tergelincir dari tangannya dan jatuh dengan suara nyaring. Sepasang mata hijau mengerjap cepat, tidak fokus; Ashley Bennett seperti kehilangan intelejensianya selama beberapa detik, sebelum menunduk dan melompat mundur, terkejut melihat kekacauan yang diciptakannya di atas lantai kayu. Fiona memandang adiknya heran, tetapi buru-buru mendekat dan, menyelipkan seuntai rambut pirang sepunggungnya ke balik telinga, merendah memunguti pecahan-pecahan mangkuk. Ashley mengikutinya.
“What’s wrong with you, Ash?”
Ashley tidak menjawab. Anak lelaki itu lagi-lagi tampak hilang dalam benaknya sendiri. Fiona mencibir, lalu memutuskan bangkit untuk mengambil sapu.
“It was me.”
Fiona menghentikan langkahnya yang sudah setengah terayun. Dia menengok ke Ashley; alisnya terangkat. “Huh? Apa? Apanya?”
“Semuanya.”
Ashley bergerak menjajari kakaknya. Wajahnya, yang sedikit mendongak demi menjembatani perbedaan tinggi, menyala oleh semangat dari sebuah pemahaman yang baru ditangkapnya. Sekarang, semuanya jelas—setidaknya, baginya. Perasaan puas menjalar-jalar sampai ke lidahnya sehingga frasa awal perkataannya sedikit terbelit dan menghasilkan satu lagi tatapan skeptis Fiona. Dia berdeham untuk meredakan apa yang berdentum-dentum di perutnya, tapi itu pun tidak cukup; tumitnya bahkan mengawali gerakan jungkat-jungkit di bawah sana.
“I’m… different, Fiona. I’m special.” Ashley menikmati sensasi kata itu di mulutnya: spesial... “I can do… things.”
“Seperti apa?” Garis-garis halus di dahi Fiona semakin mendalam sementara dia menonton adiknya yang mulai berjalan mengelilingi dapur. Dia tidak terbiasa dengan perubahan emosi Ashley kali ini—terlalu tiba-tiba.
“Aku ‘kan sudah bilang tadi!” Ashley berkata tak sabar, namun segera melanjutkannya secara perlahan setelah melihat kakaknya berjengit. “Semuanya—kuda Mr Catchpole yang nyangkut di pohon, talang air yang tiba-tiba lenyap—“
“Oh, aku ingat. Sangat basah waktu itu, Bianca sampai—“
“Aku belum selesai, Fiona! Dan kau tidak memerhatikan ucapanku, bukan itu intinya.” Si bocah melempari gadis di seberangnya pandangan mencela. “Dengarkan baik-baik, aku mengulang: kuda Mr Catchpole yang nyangkut di pohon, talang air yang tiba-tiba lenyap… truk kita yang terbakar.”
Fiona tidak bisa menahan ketidakpercayaannya, jadi dia mengeluarkannya dalam sebuah dengusan keras. Rona merah dengan cepat menghiasi pipi si adik.
“Just… watch this.” Ashley memalingkan fokusnya dari mata Fiona ke kepingan-kepingan yang tersisa dari mangkuk sup mereka. Rahangnya berkedut-kedut; dia berkonsentrasi keras. Dia harus berhasil, atau Fiona akan terus mencemoohnya tanpa henti. Tidak cukup menjadi spesial bila tidak ada orang yang mengakuinya. Seulas senyum kemudian terbetik di bibir Ashley ketika satu pecahan yang paling besar bergetar dan dengan sangat perlahan bergeser mendekati pecahan lain yang memiliki retakan segaris dengannya. Bunyi ‘trr’ dan ‘klak’ lirih mangkuk yang mulai menyatu menggema ke dalam telinga anak laki-laki itu seperti tiupan terompet kemenangan. Jantungnya berdebar kencang menimpali deras euforia yang dialaminya ketika dia melirik Fiona, dan mendapati gadis itu ternganga.
Ashley mengangkat dagunya, menatap lurus-lurus kakaknya seusai perkakas makan itu kembali dalam satu bagian. ”Well?”
Fiona merosot tanpa suara ke lantai dengan raut pias. “H-h-how…”
Ketukan di jendela memotong gagapan Fiona, menyebabkan gadis itu berdengap tajam. Ashley menoleh; seekor burung hantu berbulu cokelat kemerahan tampak di sana, selembar surat terjepit di paruhnya—Mr Ashley Bennett, dapur, Bennett Farm, LL72 8NN, Moelfre, Isle of Anglesey, Gwynedd.
".... Wh-wha... How?" Kali ini, giliran Ashley yang mengernyit bingung.
Kalau yang ini, Anna-Molly :x
Posted by Anna-Molly Archibald; Jul 5 2009, 04:27 PM in Surat Tahun Pertama

David Grover sedang berjalan menuju kontrakannya sambil bersenandung riang di tepi Moringa Crescent pada siang hari 7 Juli 1982. Wajahnya, yang biasa kaku dan tegas seperti pahatan pada batu karang, untuk kali ini tampak berseri-seri. Ketebalan lensa kacamata tutup-botol bergagang plastik murahan yang dibelinya di pasar loak di dekat toko daging Harold’s (namun kepada para orang-orang tua di panti jompo tempatnya bekerja selalu ia akui sebagai pemberian Ratu Elizabeth sebagai hadiah telah menyelamatkan hidup sang Ratu dengan cara menepuk keras-keras pundak beliau yang tersedak scone saat minum teh di istana) seolah tak mampu membendung sinar-sinar bahagia yang dipancarkan oleh sepasang bola mata cokelat muda-nya. Jika ada salah satu tetangganya yang melongok melalui tirai jendelanya dan mendapati sosok Grover-si-bokong-pembual melintas dengan tingkah seperti orang yang bagai baru saja mendapatkan berkah Natal, ia pasti akan mengira kalau Putri Diana telah hidup kembali.
Tapi, jika Anna-Molly Archibald dan Percy West yang melihatnya, mereka dengan pasti menebak kalau—
Grover-si-bokong-pembual baru saja gajian.
”Target terlihat, target terlihat!” Percy berbisik panik dari persembunyian mereka di balik tong sampah di dekat tikungan Moringa Crescent menuju Highford Walk. Sebelah tangannya menjulur ke belakang, berusaha menepuk tubuh gadis yang berada di balik punggungnya sementara kedua matanya tetap siaga mengawasi Grover.
”Iya, iya, sabar sebentar, Percy!” Anna-Molly, gadis yang tengah berjongkok itu mendesis gusar, berusaha menghindari tangan temannya di antara aktifitasnya mencoreng-coreng arang ke wajahnya. ”Tinggal satu pulasan di sini, dan—TADAAH!”
”Ssst!”
”Oops, my bad. Sorry,” kata gadis berambut pirang itu dalam bisikan terendah yang dapat dikeluarkannya sambil menggigit bibir, dan kemudian melirik melewati bahu temannya. Sepasang mata sewarna lazuli miliknya memang tak dapat melihat dengan normal seperti manusia biasa karena pernah terkena kilatan cahaya aneh sewaktu kecil dari kelompok orang-orang bertudung di London, dan hanya dapat membedakan panas—seperti ular. Wajah Percy, temannya sejak pindah ke Warwickshire, pun tidak bisa diidentifikasinya dengan jelas—hanya baunya yang seperti acar mentimun. Maka, melihat bayangan panas jangkung Grover yang masih berjalan melonjak-lonjak di seberang sana, Anna-Molly tersenyum dan menghela nafasnya.
Percy mendecakkan lidahnya mendengar desahan lega di belakangnya. ”That was close, Archibald. Jangan berisik, dan jangan santai-santai, dong!”
“Siapa yang santai-santai!?” Anna-Molly melotot marah pada punggung anak laki-laki di depannya. ”Lagipula—hei! Kau lihat aku dulu!”
Mengerang malas, Percy menengokkan kepala brunette-nya, dan tak bisa melakukan hal lain kecuali tersenyum lebar saat melihat penampilan Anna-Molly. Putri dari keluarga bangsawan Archibald yang telah bangkrut dan kehilangan orang tuanya itu saat ini sangat berbeda dari kesehariannya yang selalu mengenakan gaun-gaun indah (sisa-sisa kekayaan yang menurut Percy tak terlalu berarti—tidak bisa buat beli makanan, namun berharga bagi Anna-Molly karena mungkin saja dapat memikat calon suami kaya). Kaos lusuh berbau apak yang kebesaran dua nomor menggantung menyedihkan di bahunya yang kurus, dan wajah mulusnya telah kotor oleh noda arang. Bahkan, rambut pirang panjang yang selalu dibanggakan gadis itu sekarang kelihatan seperti sarang burung dengan daun-daun kering di antara helai-helainya.
”Wow! Kau keren banget, Anna-Molly! Grover pasti tak mengenalimu!” seru Percy dengan kekaguman yang terdengar jelas di suaranya dan membuat gadis itu tersenyum bangga. ”Oke, kalau begitu, sudah siap? Lima langkah lagi si-bokong-pembual akan sampai di posisi ’x’ soalnya.” Anna-Molly memerhatikan sesuatu yang seperti tongkat pendek merah yang mencuat dari tangan temannya—telunjuk Percy—dan menelusurinya hingga pandangannya yang cacat jatuh ke sesuatu yang tipis beraura kehijauan dengan sedikit merah di atas aspal yang panas—dedaunan?
“Itu... dedaunan?” tanya Anna-Molly, memicingkan matanya.
“Yup.” Percy menganggukkan kepalanya, dan menempelkan keropeng dari plastisin pada wajahnya. Anna-Molly tidak begitu bisa melihatnya dengan jelas, namun kata Percy, keropeng itu adalah hal terhebat yang pernah diciptakan manusia, sehingga ia percaya saja benda itu dapat menyembunyikan wajah Percy dengan baik. “Siap, Anna-Molly? Ayo!”
Anna-Molly meraih tongkat kayu bekas tiang jemuran yang diambilnya dari tempat sampah, dan membiarkan sebelah tangannya digamit Percy, yang menariknya bangkit dan berjalan pelan ke arah Grover-si-bokong-pembual yang sedang mengibaskan kakinya dari dedaunan. Gadis kecil itu mengosongkan tatapannya berusaha membuat dirinya tampak seperti orang buta total, sementara berjalan tersaruk-saruk dengan setengah menumpu pada lengan Percy yang membimbingnya—tongkat di tangan kanannya terseret lunglai di sisinya. Ia berusaha mati-matian menahan tawanya saat bayangan panas yang merupakan Grover di depannya berhenti dan kemudian berdengap keras.
“Good God! Apa-apaan kalian ini?” tanya Grover sambil memegangi dadanya. Terdengar gesekan uang kertas saat lengan jasnya tertarik, dan Anna-Molly tersenyum tipis. Pendengarannya yang terlatih terhadap uang baru usai memberikan kabar baik: uangnya ada di saku kiri jas, dan jumlahnya cukup banyak untuk memesan berpuluh-puluh double cheese burger di kedai Sally.
”Kucing hamil naik bianglala.” Anna-Molly membisikkan kode yang berarti: ’saku-jas-kiri-dan-banyak’di telinga Percy yang tidak terlau jauh di atas tingginya.
”Oke,” balas Percy di antara katupan bibirnya yang melengkung ke bawah, memelas sedemikian rupa. Anak laki-laki itu mendesah berat sebelum merepet panjang dengan nada yang membuat Anna-Molly mulas di tempat.
”Oh, Tuan yang muda dan tampan,” Percy memulai ratapannya, ”Kami mohon, berilah sedikit derma Anda. Adik saya...”Ia menoleh dramatis pada Anna-Molly, yang mulai menunjukkan wajah ingin menangis dengan mata terpancang tak fokus lima inci di samping kepala Grover, ”... Clara, yang tidak bisa... tidak bisa melihat... Clara buta, Tuan. Dan kami yatim-piatu. Kami sudah tiga hari tidak makan... Tolonglah, Tuan...”
Grover mengerucutkan mulutnya sesaat, menyipitkan matanya ke anak-anak itu, dan akhirnya merogoh kantung celananya.
Anna-Molly mengerutkan dahi. Kantung celana? Bukan saku jas?
”Baiklah, kalian gelandangan menjijikkan,” Grover menjatuhkan satu pence ke tangan Percy yang tertadah, ”Ini! Sekarang, pergi!”
”T-tuan... untuk beli maka—”
”Pergi, kataku!”
Percy mengeluarkan sekali lagi lenguhan panjang yang menyayat hati—dan yang mengakibatkan Grover menyentak mundur—sebelum lantas berbalik seraya memapah Anna-Molly menjauh. Setelah beberapa langkah yang aman dari radius pendengaran Grover, Percy berkata, ”Sekarang.”
Anna-Molly tiba-tiba saja roboh di tengah jalan, tergeletak tak sadarkan diri—setidaknya itu yang ditangkap Grover.
”Clara! Clara adikku! Claraaaaa!” Percy meraung-raung sambil mengguncang-guncang tubuh gadis kecil itu seperti orang gila. Anna-Molly harus menggigit lidahnya agar tak meledak dalam tawa. Ia tetap memejamkan matanya kuat-kuat mesti dorongan untuk melihat ingus—sesuatu yang olehnya terlihat seperti susu basi dengan aura biru—Percy berleleran di mana-mana di wajahnya begitu kuat. Tak lama kemudian, terdengar derap langkah mendekat, dan Anna-Molly yakin itu pasti Grover. Ia menunggu hingga Grover berlutut di sebelah tubuhnya, dan—
—sambar uang di saku jasnya!
”A-ap—”
”BYE BYE TUAN! TERIMAKASIH HADIAHNYAAA!”
Terdengar teriakan keras dari Percy yang berlari di belakangnya, dan Anna-Molly tertawa lepas sembari menikung cepat menuju Highford Walk, dan lurus memasuki Wascotta Street, meninggalkan Grover ternganga tanpa gaji di Moringa Crescent. Kemudian, saat akhirnya ia mencapai halaman kontrakan mungilnya, sebuah rumah bercat putih sederhana, bau acar mentimun tercium, dan engahan nafas bercampur tawa Percy merendenginya. Tersenyum lebar, Anna-Molly menoleh dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi, melakukan high-five penuh semangat dengan sahabat yang paling disayanginya itu. Kalau saja Percy tidak sama miskinnya dengan ia sekarang, bocah itu sudah dari kapan tahu masuk dalam daftar calon suami Anna-Molly.
”Sarah, aku pulang! BAWA UAAAAANG!”
Gadis itu melepas sendal lapuk properti pernyamarannya di teras, dan langsung masuk ke dalam rumah, berlari menuju dapur. Ia dapat bergerak leluasa di dalam bangunan kecil yang dihuninya bersama bekas pelayan wanitanya itu, karena Sarah yang baik meletakkan benda-benda yang menguarkan sedikit panas dan bagus untuk dekorasi di setiap sudut—tanaman dan bunga-bungaan. Selain itu, furnitur yang mereka miliki juga tak begitu banyak, dan biasanya hanya menghuni sepetak kecil di setiap ruangan.
”Benarkah—oof!” Wanita berumur kepala lima yang baru berbalik dari panggangan kue itu itu menahan nafasnya karena Anna-Molly tiba-tiba saja menghambur ke depan tubuhnya yang mengenakan celemek dapur. ”Hati-hati, sayang! Dan... uang?” Nada bicara Sarah meninggi seperti biasanya saat ia tak percaya akan sesuatu.
Percy, yang dalam perjalanannya ke dapur sempat singgah di kulkas dan mengambil sebuah apel, berjalan santai ke arah majikan kecil dan pelayannya itu, dan lantas menuding Anna-Molly dengan tangannya yang basah oleh cairan apel. ”Hihat haja hi hangannya,” ujarnya sambil berusaha menelan.
Sarah memandang bungkusan yang buru-buru diacungkan anak asuhnya, dan tersenyum lega. Ia mengeluarkan sepucuk surat dari dalam kantung celemeknya. ”Syukurlah… jadi kita bisa membeli keperluan sekolah barumu.” Kemudian, menatap binaran pertanyaan di mata biru Anna-Molly, pertanyaan yang walaupun belum keluar dari bibir mungil gadis kecil itu namun telah diketahuinya pasti, Sarah langsung terkekeh maklum. ”Tenang, sayang. Banyak orang kaya di sekolah sihirmu itu.”
Dan, terlalu senang mendengar kata “banyak orang kaya”, Anna-Molly, yang sekarang berdiri di atas meja makan sambil bersorak dan menebar-nebar uang ke sekeliling dapur, tidak menyadari kalau pelayannya mengucapkan sesuatu yang tak dipahaminya: ‘sihir.’
* * *
"... Tunggu sebentar." Sarah menaikkan sebelah alisnya curiga. "Kalian dapat uang banyak dari mana? Mencuri?!"
Oopsie.
0 komentar:
Poskan Komentar