Rabu, 14 Juli 2010

so don't rely on people you meet. cos no one is safe in these streets

random title (c) New in Town - Little Boots


Masih tentang IndoHogwarts, ini post-post gue yang paling gue suka selama RP di sana. I'm so sorry if these writings make your eyes bleed, tapi bagi gue ini berhargaaaaaa.... Ah, those good ole' days ;____; *shot*



Posted by Ashley Bennett; Apr 14 2010, 09:34 PM in Surat Tahun Pertama


”For f***’s sake! Those f***ers burned out my f***in’ truck! What the f*** do they f***in’ want from me?! F***!”



“Isn’t it wonderful that we get six ‘f’ words instead of ‘good morning’ to start our day? I feel sooo energized.”

Fiona Bennett menggumam pelan seraya mengelilingi tepian mangkuk sup dengan spons penuh busa di tangannya. Dia berada di dapur saat ini—ruangan suram di bagian belakang rumah dengan langit-langit rendah dan sederet bokong-bokong panci berjelaga menumpuk tak beraturan hampir di setiap sudut—mengerjakan tugas harian mencuci peralatan makan setelah sarapan. Raungan dan makian dari arah peternakan, yang sedikit teredam oleh suara kucuran air dan decitan spons basah, terdengar lebih jelas ketika gadis itu mematikan keran. Fiona meletakkan mangkuknya di atas nampan plastik, lalu mengelap tangan sekenanya pada serbet yang tergantung di samping tempat cuci piring. Dia melenggang melintasi ruangan. Telunjuk kurusnya menarik turun tirai yang menutupi seperempat dari jendela di depannya; sesosok pria setengah botak sedang mengumpat-umpat sambil menendangi sesuatu yang terlihat seperti kerangka mobil besar.

“Ugh. You’re so lucky that he’s not your real father,” kata gadis itu sembari berbalik; lidahnya mendecak. Fiona, sama seperti keenam saudarinya, tidak begitu menyukai ayahnya—terlalu banyak saat di mana pria itu menenggak brandy daripada mengurus keluarganya; lebih-lebih peternakan. Domba-domba mereka yang terus menghasilkan wol dan ayam-ayam bertelur sama sekali tidak ada hubungannya dengan kerja keras seorang Jacob Bennett.

“… Ash?”

Pertanyaan itu terlontar saat akhirnya gadis remaja berusia tiga belas tahun itu menyadari bahwa selama ini dirinya telah bermonolog. Keningnya, yang dihiasi bintik-bintik kecoklatan seperti di pipi dan ujung hidungnya, mengerut. Adik laki-lakinya berdiri diam seperti patung di depan rak piring. Mangkuk sup yang tadi dicuci Fiona tercengkeram erat di jari-jari yang memutih. Air masih menetes-netes dari permukaan keramiknya—agak aneh, menurut Fiona. Ashley biasanya efisien dan selalu melakukan tugas-tugasnya—mengeringkan untuk sekarang ini—dengan cekatan. “Hey, you okay?”

Bocah berambut gelap yang dipanggilnya itu tersentak. Mangkuk tergelincir dari tangannya dan jatuh dengan suara nyaring. Sepasang mata hijau mengerjap cepat, tidak fokus; Ashley Bennett seperti kehilangan intelejensianya selama beberapa detik, sebelum menunduk dan melompat mundur, terkejut melihat kekacauan yang diciptakannya di atas lantai kayu. Fiona memandang adiknya heran, tetapi buru-buru mendekat dan, menyelipkan seuntai rambut pirang sepunggungnya ke balik telinga, merendah memunguti pecahan-pecahan mangkuk. Ashley mengikutinya.

“What’s wrong with you, Ash?”

Ashley tidak menjawab. Anak lelaki itu lagi-lagi tampak hilang dalam benaknya sendiri. Fiona mencibir, lalu memutuskan bangkit untuk mengambil sapu.

“It was me.”

Fiona menghentikan langkahnya yang sudah setengah terayun. Dia menengok ke Ashley; alisnya terangkat. “Huh? Apa? Apanya?”

“Semuanya.”

Ashley bergerak menjajari kakaknya. Wajahnya, yang sedikit mendongak demi menjembatani perbedaan tinggi, menyala oleh semangat dari sebuah pemahaman yang baru ditangkapnya. Sekarang, semuanya jelas—setidaknya, baginya. Perasaan puas menjalar-jalar sampai ke lidahnya sehingga frasa awal perkataannya sedikit terbelit dan menghasilkan satu lagi tatapan skeptis Fiona. Dia berdeham untuk meredakan apa yang berdentum-dentum di perutnya, tapi itu pun tidak cukup; tumitnya bahkan mengawali gerakan jungkat-jungkit di bawah sana.

“I’m… different, Fiona. I’m special.” Ashley menikmati sensasi kata itu di mulutnya: spesial... “I can do… things.”

“Seperti apa?” Garis-garis halus di dahi Fiona semakin mendalam sementara dia menonton adiknya yang mulai berjalan mengelilingi dapur. Dia tidak terbiasa dengan perubahan emosi Ashley kali ini—terlalu tiba-tiba.

“Aku ‘kan sudah bilang tadi!” Ashley berkata tak sabar, namun segera melanjutkannya secara perlahan setelah melihat kakaknya berjengit. “Semuanya—kuda Mr Catchpole yang nyangkut di pohon, talang air yang tiba-tiba lenyap—“

“Oh, aku ingat. Sangat basah waktu itu, Bianca sampai—“

“Aku belum selesai, Fiona! Dan kau tidak memerhatikan ucapanku, bukan itu intinya.” Si bocah melempari gadis di seberangnya pandangan mencela. “Dengarkan baik-baik, aku mengulang: kuda Mr Catchpole yang nyangkut di pohon, talang air yang tiba-tiba lenyap… truk kita yang terbakar.”

Fiona tidak bisa menahan ketidakpercayaannya, jadi dia mengeluarkannya dalam sebuah dengusan keras. Rona merah dengan cepat menghiasi pipi si adik.

“Just… watch this.” Ashley memalingkan fokusnya dari mata Fiona ke kepingan-kepingan yang tersisa dari mangkuk sup mereka. Rahangnya berkedut-kedut; dia berkonsentrasi keras. Dia harus berhasil, atau Fiona akan terus mencemoohnya tanpa henti. Tidak cukup menjadi spesial bila tidak ada orang yang mengakuinya. Seulas senyum kemudian terbetik di bibir Ashley ketika satu pecahan yang paling besar bergetar dan dengan sangat perlahan bergeser mendekati pecahan lain yang memiliki retakan segaris dengannya. Bunyi ‘trr’ dan ‘klak’ lirih mangkuk yang mulai menyatu menggema ke dalam telinga anak laki-laki itu seperti tiupan terompet kemenangan. Jantungnya berdebar kencang menimpali deras euforia yang dialaminya ketika dia melirik Fiona, dan mendapati gadis itu ternganga.

Ashley mengangkat dagunya, menatap lurus-lurus kakaknya seusai perkakas makan itu kembali dalam satu bagian. ”Well?”

Fiona merosot tanpa suara ke lantai dengan raut pias. “H-h-how…”

Ketukan di jendela memotong gagapan Fiona, menyebabkan gadis itu berdengap tajam. Ashley menoleh; seekor burung hantu berbulu cokelat kemerahan tampak di sana, selembar surat terjepit di paruhnya—Mr Ashley Bennett, dapur, Bennett Farm, LL72 8NN, Moelfre, Isle of Anglesey, Gwynedd.

".... Wh-wha... How?" Kali ini, giliran Ashley yang mengernyit bingung.


Kalau yang ini, Anna-Molly :x

Posted by Anna-Molly Archibald; Jul 5 2009, 04:27 PM
in Surat Tahun Pertama


David Grover sedang berjalan menuju kontrakannya sambil bersenandung riang di tepi Moringa Crescent pada siang hari 7 Juli 1982. Wajahnya, yang biasa kaku dan tegas seperti pahatan pada batu karang, untuk kali ini tampak berseri-seri. Ketebalan lensa kacamata tutup-botol bergagang plastik murahan yang dibelinya di pasar loak di dekat toko daging Harold’s (namun kepada para orang-orang tua di panti jompo tempatnya bekerja selalu ia akui sebagai pemberian Ratu Elizabeth sebagai hadiah telah menyelamatkan hidup sang Ratu dengan cara menepuk keras-keras pundak beliau yang tersedak scone saat minum teh di istana) seolah tak mampu membendung sinar-sinar bahagia yang dipancarkan oleh sepasang bola mata cokelat muda-nya. Jika ada salah satu tetangganya yang melongok melalui tirai jendelanya dan mendapati sosok Grover-si-bokong-pembual melintas dengan tingkah seperti orang yang bagai baru saja mendapatkan berkah Natal, ia pasti akan mengira kalau Putri Diana telah hidup kembali.

Tapi, jika Anna-Molly Archibald dan Percy West yang melihatnya, mereka dengan pasti menebak kalau—

Grover-si-bokong-pembual baru saja gajian.

”Target terlihat, target terlihat!” Percy berbisik panik dari persembunyian mereka di balik tong sampah di dekat tikungan Moringa Crescent menuju Highford Walk. Sebelah tangannya menjulur ke belakang, berusaha menepuk tubuh gadis yang berada di balik punggungnya sementara kedua matanya tetap siaga mengawasi Grover.

”Iya, iya, sabar sebentar, Percy!” Anna-Molly, gadis yang tengah berjongkok itu mendesis gusar, berusaha menghindari tangan temannya di antara aktifitasnya mencoreng-coreng arang ke wajahnya. ”Tinggal satu pulasan di sini, dan—TADAAH!”

”Ssst!”

”Oops, my bad. Sorry,” kata gadis berambut pirang itu dalam bisikan terendah yang dapat dikeluarkannya sambil menggigit bibir, dan kemudian melirik melewati bahu temannya. Sepasang mata sewarna lazuli miliknya memang tak dapat melihat dengan normal seperti manusia biasa karena pernah terkena kilatan cahaya aneh sewaktu kecil dari kelompok orang-orang bertudung di London, dan hanya dapat membedakan panas—seperti ular. Wajah Percy, temannya sejak pindah ke Warwickshire, pun tidak bisa diidentifikasinya dengan jelas—hanya baunya yang seperti acar mentimun. Maka, melihat bayangan panas jangkung Grover yang masih berjalan melonjak-lonjak di seberang sana, Anna-Molly tersenyum dan menghela nafasnya.

Percy mendecakkan lidahnya mendengar desahan lega di belakangnya. That was close, Archibald. Jangan berisik, dan jangan santai-santai, dong!”

“Siapa yang santai-santai!?” Anna-Molly melotot marah pada punggung anak laki-laki di depannya. ”Lagipula—hei! Kau lihat aku dulu!”

Mengerang malas, Percy menengokkan kepala brunette-nya, dan tak bisa melakukan hal lain kecuali tersenyum lebar saat melihat penampilan Anna-Molly. Putri dari keluarga bangsawan Archibald yang telah bangkrut dan kehilangan orang tuanya itu saat ini sangat berbeda dari kesehariannya yang selalu mengenakan gaun-gaun indah (sisa-sisa kekayaan yang menurut Percy tak terlalu berarti—tidak bisa buat beli makanan, namun berharga bagi Anna-Molly karena mungkin saja dapat memikat calon suami kaya). Kaos lusuh berbau apak yang kebesaran dua nomor menggantung menyedihkan di bahunya yang kurus, dan wajah mulusnya telah kotor oleh noda arang. Bahkan, rambut pirang panjang yang selalu dibanggakan gadis itu sekarang kelihatan seperti sarang burung dengan daun-daun kering di antara helai-helainya.

”Wow! Kau keren banget, Anna-Molly! Grover pasti tak mengenalimu!” seru Percy dengan kekaguman yang terdengar jelas di suaranya dan membuat gadis itu tersenyum bangga. ”Oke, kalau begitu, sudah siap? Lima langkah lagi si-bokong-pembual akan sampai di posisi ’x’ soalnya.” Anna-Molly memerhatikan sesuatu yang seperti tongkat pendek merah yang mencuat dari tangan temannya—telunjuk Percy—dan menelusurinya hingga pandangannya yang cacat jatuh ke sesuatu yang tipis beraura kehijauan dengan sedikit merah di atas aspal yang panas—dedaunan?

“Itu... dedaunan?” tanya Anna-Molly, memicingkan matanya.

“Yup.” Percy menganggukkan kepalanya, dan menempelkan keropeng dari plastisin pada wajahnya. Anna-Molly tidak begitu bisa melihatnya dengan jelas, namun kata Percy, keropeng itu adalah hal terhebat yang pernah diciptakan manusia, sehingga ia percaya saja benda itu dapat menyembunyikan wajah Percy dengan baik. “Siap, Anna-Molly? Ayo!”

Anna-Molly meraih tongkat kayu bekas tiang jemuran yang diambilnya dari tempat sampah, dan membiarkan sebelah tangannya digamit Percy, yang menariknya bangkit dan berjalan pelan ke arah Grover-si-bokong-pembual yang sedang mengibaskan kakinya dari dedaunan. Gadis kecil itu mengosongkan tatapannya berusaha membuat dirinya tampak seperti orang buta total, sementara berjalan tersaruk-saruk dengan setengah menumpu pada lengan Percy yang membimbingnya—tongkat di tangan kanannya terseret lunglai di sisinya. Ia berusaha mati-matian menahan tawanya saat bayangan panas yang merupakan Grover di depannya berhenti dan kemudian berdengap keras.

Good God! Apa-apaan kalian ini?” tanya Grover sambil memegangi dadanya. Terdengar gesekan uang kertas saat lengan jasnya tertarik, dan Anna-Molly tersenyum tipis. Pendengarannya yang terlatih terhadap uang baru usai memberikan kabar baik: uangnya ada di saku kiri jas, dan jumlahnya cukup banyak untuk memesan berpuluh-puluh double cheese burger di kedai Sally.

”Kucing hamil naik bianglala.” Anna-Molly membisikkan kode yang berarti: ’saku-jas-kiri-dan-banyak’di telinga Percy yang tidak terlau jauh di atas tingginya.

”Oke,” balas Percy di antara katupan bibirnya yang melengkung ke bawah, memelas sedemikian rupa. Anak laki-laki itu mendesah berat sebelum merepet panjang dengan nada yang membuat Anna-Molly mulas di tempat.

”Oh, Tuan yang muda dan tampan,” Percy memulai ratapannya, ”Kami mohon, berilah sedikit derma Anda. Adik saya...”Ia menoleh dramatis pada Anna-Molly, yang mulai menunjukkan wajah ingin menangis dengan mata terpancang tak fokus lima inci di samping kepala Grover, ”... Clara, yang tidak bisa... tidak bisa melihat... Clara buta, Tuan. Dan kami yatim-piatu. Kami sudah tiga hari tidak makan... Tolonglah, Tuan...”

Grover mengerucutkan mulutnya sesaat, menyipitkan matanya ke anak-anak itu, dan akhirnya merogoh kantung celananya.

Anna-Molly mengerutkan dahi. Kantung celana? Bukan saku jas?

”Baiklah, kalian gelandangan menjijikkan,” Grover menjatuhkan satu pence ke tangan Percy yang tertadah, ”Ini! Sekarang, pergi!”

”T-tuan... untuk beli maka—”

”Pergi, kataku!”

Percy mengeluarkan sekali lagi lenguhan panjang yang menyayat hati—dan yang mengakibatkan Grover menyentak mundur—sebelum lantas berbalik seraya memapah Anna-Molly menjauh. Setelah beberapa langkah yang aman dari radius pendengaran Grover, Percy berkata, ”Sekarang.”

Anna-Molly tiba-tiba saja roboh di tengah jalan, tergeletak tak sadarkan diri—setidaknya itu yang ditangkap Grover.

”Clara! Clara adikku! Claraaaaa!” Percy meraung-raung sambil mengguncang-guncang tubuh gadis kecil itu seperti orang gila. Anna-Molly harus menggigit lidahnya agar tak meledak dalam tawa. Ia tetap memejamkan matanya kuat-kuat mesti dorongan untuk melihat ingus—sesuatu yang olehnya terlihat seperti susu basi dengan aura biru—Percy berleleran di mana-mana di wajahnya begitu kuat. Tak lama kemudian, terdengar derap langkah mendekat, dan Anna-Molly yakin itu pasti Grover. Ia menunggu hingga Grover berlutut di sebelah tubuhnya, dan—

—sambar uang di saku jasnya!

”A-ap—”

”BYE BYE TUAN! TERIMAKASIH HADIAHNYAAA!”

Terdengar teriakan keras dari Percy yang berlari di belakangnya, dan Anna-Molly tertawa lepas sembari menikung cepat menuju Highford Walk, dan lurus memasuki Wascotta Street, meninggalkan Grover ternganga tanpa gaji di Moringa Crescent. Kemudian, saat akhirnya ia mencapai halaman kontrakan mungilnya, sebuah rumah bercat putih sederhana, bau acar mentimun tercium, dan engahan nafas bercampur tawa Percy merendenginya. Tersenyum lebar, Anna-Molly menoleh dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi, melakukan high-five penuh semangat dengan sahabat yang paling disayanginya itu. Kalau saja Percy tidak sama miskinnya dengan ia sekarang, bocah itu sudah dari kapan tahu masuk dalam daftar calon suami Anna-Molly.

”Sarah, aku pulang! BAWA UAAAAANG!”

Gadis itu melepas sendal lapuk properti pernyamarannya di teras, dan langsung masuk ke dalam rumah, berlari menuju dapur. Ia dapat bergerak leluasa di dalam bangunan kecil yang dihuninya bersama bekas pelayan wanitanya itu, karena Sarah yang baik meletakkan benda-benda yang menguarkan sedikit panas dan bagus untuk dekorasi di setiap sudut—tanaman dan bunga-bungaan. Selain itu, furnitur yang mereka miliki juga tak begitu banyak, dan biasanya hanya menghuni sepetak kecil di setiap ruangan.

”Benarkah—oof!” Wanita berumur kepala lima yang baru berbalik dari panggangan kue itu itu menahan nafasnya karena Anna-Molly tiba-tiba saja menghambur ke depan tubuhnya yang mengenakan celemek dapur. ”Hati-hati, sayang! Dan... uang? Nada bicara Sarah meninggi seperti biasanya saat ia tak percaya akan sesuatu.

Percy, yang dalam perjalanannya ke dapur sempat singgah di kulkas dan mengambil sebuah apel, berjalan santai ke arah majikan kecil dan pelayannya itu, dan lantas menuding Anna-Molly dengan tangannya yang basah oleh cairan apel. ”Hihat haja hi hangannya,” ujarnya sambil berusaha menelan.

Sarah memandang bungkusan yang buru-buru diacungkan anak asuhnya, dan tersenyum lega. Ia mengeluarkan sepucuk surat dari dalam kantung celemeknya. ”Syukurlah… jadi kita bisa membeli keperluan sekolah barumu.” Kemudian, menatap binaran pertanyaan di mata biru Anna-Molly, pertanyaan yang walaupun belum keluar dari bibir mungil gadis kecil itu namun telah diketahuinya pasti, Sarah langsung terkekeh maklum. ”Tenang, sayang. Banyak orang kaya di sekolah sihirmu itu.”

Dan, terlalu senang mendengar kata “banyak orang kaya”, Anna-Molly, yang sekarang berdiri di atas meja makan sambil bersorak dan menebar-nebar uang ke sekeliling dapur, tidak menyadari kalau pelayannya mengucapkan sesuatu yang tak dipahaminya: ‘sihir.’


* * *


"... Tunggu sebentar." Sarah menaikkan sebelah alisnya curiga. "Kalian dapat uang banyak dari mana? Mencuri?!"

Oopsie.

it's time the fat cats had a heart attack

random title (c) Uprising - Muse
________________________________________

Errr berhubung blog ini udah lama banget terabaikan... Jadi gue sampahin aja sekalian (._.)

Aaanyway! Kali ini gue mau ngasih tau hal yang sempet jadi addict gue di internet--and no, itu bukan porn *shot*
It's IndoHogwarts! :D

Dari namanya aja, yang ada unsur-unsur Hogwartsnya, pasti udah pada ngira kalau ini ada hubungannya sama penyihir remaja hasil imajinasinya Mrs Rowling, Harry Potter. Yep, this is a Harry Potter-themed Role Playing Forum. Tapi, bedanya, forum ini menuntut kita bermain dengan kata-kata--menulis cerita, mengarang... alala you named it :)


Aaaand, these are my beloved characters in IH

1. Aurore Petrabella Marvil (Slytherin)



Visualization: Vlada Roslyakova || Poor signature set (c) Me

Age: 14 yo

Childish, naive, quirky, has a monstrous-strength, and, err... weird. She has a dream to marry Thestral, a magical creature--which is not human, clearly -____-"

But, thank God there's Nathaniel Gladstone ;)


2. Keane Blafardeus Lapin (Slytherin)


Visualization: Danny Schwarz || Signature (c) Skyler Webster

Age: 13 yo

Hypochondriac, germ-phobic.... Manusia ultra steril yang kelewat sok higienis, bisa dibilang hahaha. Keane nganggep semua manusia sebagai kontainer bakteri yang nggak boleh deket-deket dia, kecuali keluarganya sama dua sahabatnya, Blake Guillory dan Honore Fauchelevent. Mereka bahkan bikin clique gitu loh, namanya The Untouchables =)) Yep, itu seratus persen buat kocak-kocakan hahahaha. Kayak yang dijelasin Apo, Puppet Mistress yang megang Blake di sini:

# The Untouchables

Kedua orang ini: anak Slytherin, super tajir, dijejeriti wanita (katanya—padahal tidak), pusat perhatian:
* Honore Fauchelevent. Produk impor Prancis, maniak parfum, modis, tampan, senantiasa berkaca dengan cermin genggam keemasannya. Dan narsisnya… omaggaaaaahhh… tobat gue yaoloh, mas. Memang tiada dua!
* Keane Lapin. Sama-sama produk impor Prancis, childish, pangeran, polos, hipokondriak akut, musuh abadi dengan kuman bakteri. Terus heboh sendiri kalau disentuh orang. Kemana-mana selalu bawa Ramuan Super Steril Mrs.Watts atau segala jenis botol-botol desinfektan, then srot- srot- srot… nyemprot-nyemprot.

Geez… entah gue bisa bilang apa. Mereka Slytherin tapi jauh dari jaim. Mereka ‘tak tersentuh’ bukan karena tampan dan digilai cewek. Tapi karena keantisosialan mereka, yakni: 1) perilaku minat honore yang setengah menyimpang (Oke, Bay- Honore bukan homo, tapi bi. Atau udah straight? Haleluyah… u_u), 2) Keane terlalu sibuk semprot-semprot kuman ketimbang mencari cewek, 3) ke-I-don’t-give-a-damn-an Blake yang ga peduli orang lain selain dua temannya. Jadi teknisnya begini… di Slytherin, tampan dan digilai cewek itu banyak. Namun yangmerasa tampan danmerasa digilai cewekitu jarang! So, here we are, HUAHAHAHA… Makasih, Bay en Nu, chara-charanya bersedia gue nistakan sedemikan rupa. Geez darah seni (dan nista) gue mengalir deras, wakakakaak… Honore en Keane: chara dengan karakter original worth BC.

Gue pernah bilang ke Bayu en Nunu waktu Blake masih kelas satu, ‘Blake adalah chara gagal. Gue akan terus maenin dia karena lo berdua doang. Kalo ada salah satu dari lo yang unregis, Blake bakal gue unregis.’ Dan ternyata sayangnya Unto memang hanya bertahan 3 term. Keane unregis, yeah. Then somehow… Honore kehilangan touch nista narsisnya (imho lho, Bay u_u). Tapi setelah Keane unregis, gue ternyata masih terus. Sori… ternyata gue terlalu sayang dengan Blake. Seperti yang gue katakan, Blake itu tangguh. He always finds a way.

Yes, Unto hanya berjalan 3 term. Namun 3 term itu…

…priceless.


Yes, yes, priceless indeed ;_______________;


3. Anna-Molly Archibald (Gryffindor)


Visualization: Sasha Pivovarova || Signature (c) Hortensia LeBlanc

Age: 11

Umm, putri bangsawan yang mendadak bangkrut, cacat mata, punya peliharaan bayi orang utan bernama Gepetto, dan matreeeee $__$
Anna-Molly sepupuan sama Couzax L. Archibald, karakternya Ravi, tapi cuma ketemu sekali gara-gara guenya nggak aktif .__.


4. Kasia Linette (Ravenclaw)


Visualization: Auguste Abeliunaite || Signature (c) Izarra Dawne

Age: 11 yo

Spoiled-princess. Feminine, shallow, ambitious, clever, imaginative, naive, hypocrite.


5. Ashley Bennett (Ravenclaw)



Visualization: Josh Beech || Poor signature (c) Me

Age: 11 yo

Anak tiri peternak miskin di Moelfre, North Wales. Dia bungsu dan cowok satu-satunya dari ketujuh kakaknya yang perempuan semua. Walaupun Ash itu outstandingly smart, dia nggak dianggep di lingkungan rumahnya karena... ayah tirinya nggak nganggep kecerdasan itu penting. Sehingga, waktu tau kalau sebenernya dia penyihir, Ash seneng banget. It made him feels special, lebih tinggi derajatnya dari orang-orang yang selama ini ngeremehin dia. And yes, he's a status-slash-power seeker.




I love them all. Walaupun udah hampir nggak pernah dimainin lagi, gue sayang mereka semua kok ;_____________;

Minggu, 26 Juli 2009

One True Pairing



CUUUUUUUUUUUUUUTEEEEEEEEEEEE! XD

Selasa, 09 Juni 2009

coffeeman! beep beep!

EHMAGAWD. Found this five minutes ago; effin' hilarious roflmao.



LOLs.


aaaaand, The French lyrics (in case you're interested):

Le Café

Pour bien commencer
ma petite journée
et me réveiller moi
je pris un café

Un arabica
noir et bien corsé
j'enfile ma parca
sa y'est je peux y'aller

"Où est-ce que tu vas"
me cri mon aimée
"prenons un kawa je viens de me lever"
étant en avance
et un peu forcé
je change de sens et reprend un café

A huit heure moins le quart
Faut bien avouer
les bureaux sont vides on pourrait s'ennuyer

Mais je reste calme
je sais m'adapter
l'temps qu'ils arrivent
j'ai le temps pour un café


La journée s'emballe
tout le monde peut bosser au moins jusqu'à l'heure...
de la pause café

Ma secrétaire rentre
"jlé faire comme vous l'aimez"
Ah mince j'viens d'en prendre
mais maintenant qu'il est fait

Un repas d'affaire
tout près du sentier
Il fait un temps superbe mais je me sens stréssé
mes collègues se marrent
"T'es trop fort René!!!"
"Prend un bon cigare et un p'tit café"

Une fois fini
mes collègues crevés
j'appelle un taxi ...
mais moi j'ai envie de sauté!!!
Je fais tout Paris
pi je vois un troquet
j'commande un déca.
mais re-caféiné


J'arrive au bureau
ma secrétaire me fait:
"Vous êtes un peu en retard je me suis inquiétée!"
oh! j'la jette par la f'nêtre
!!!
elle l'avait bien cherché !!!
T'façon faut que je rentre
mais d'abord un café!!!

Attendant le métro
je me fais agrésser
une p'tite vieille me dit:
"heu vous avez l'heure s'il vous plaît?"

hé! j'lui casse la tête et j'la pousse sur le quai!!!
Je file à la maison et j'me sert un ... devinez?!!

"Papa mon papa!
En classe je suis premier!"

P'TIN MAIS QUOI!!!
T'VAS ARRETER D'ME FAIRE ...
CHIER!!!
MAIS QU'IL EST CON CE GOSSE!!!
PI EN PLUS IL S'MET A CHIALER
!!!
J'M'ENFERME DANS LA CUISINE!!!
IL RESTE UN PEU DE CAFE!!!

CA FAIT QUELQUES JOURS QUE JE SUIS ENFERME!!!
CHUIS SEUL DANS MA CUISINE ET JE BOIS DU CAFE!!!
IL FAUDRA BIEN Q'JE DORME!!!
LES FLICS VONT M'CHOPPER!!!
ALORS JE COULE UNE BANK ET J'REPREND DU CAFE!!!!


-----------

Translet ke Indonesian: GOBLOOOOOOOOOOOOOOOOOK BAHAHAHAHAHAHAHA

Jumat, 05 Juni 2009

berbuat dosa itu...

whatifibecomebad: anjiiing anjing *piiipipipip* (nama disensor karena mungkin aja yang diomongin nyasar ke blog ini)

whatifibecomebad: fuck bgt

pinkviolinorchestra: kenapa lagi?

BUZZ!!!

whatifibecomebad: fuck bangeeeeet anjiiiing

whatifibecomebad: oh my god damn shit

pinkviolinorchestra: iyaaaa kenapaaaaaa?

whatifibecomebad: he asked me if he is gorgeous or not

whatifibecomebad: anjiiiiing

pinkviolinorchestra: OOOOOOOOOOH MYYYYYY

whatifibecomebad: toooooottt

whatifibecomebad: jijikkkk faaaaaakkk

pinkviolinorchestra: trus lo jawab apa?

pinkviolinorchestra: JAWAB NGGAK KAN??

whatifibecomebad: oh my god damn shit

whatifibecomebad: iye lo cakep hahahahahaahahahahahha

pinkviolinorchestra: YAAAAAAAAAAAAAAAH WANDAAAAAAA

pinkviolinorchestra: kalo dibilang jelek kan biar dia nyesek kek

pinkviolinorchestra: mati sana terusnya

whatifibecomebad: biar die tambah songong tau ndi

whatifibecomebad: ntar dia ga pamer lagi ama gue

whatifibecomebad: ntar kita kehilangan bahan gosip

pinkviolinorchestra: OH IYAA HAHAHAHAAAHAHAHA

whatifibecomebad: hahahahaha anjjjiiiiiiiiing


............................see? berbuat dosa itu addicting :D

Selasa, 02 Juni 2009

VLADA!





She's soooo cute, isn't she? <3 <3 <3

Kamis, 28 Mei 2009

tagged.

Dapet PR dari Kal, dan, tidak seperti tugas menerjemahkan bahasa Perancis ataupun poster "save the ocean" bahasa Inggris, saya akan dengan senang hati mengerjakannya tralalalaa XD

What is your current obsession?
Lifebook Fujitsu

What is your weirdest obsession?
Become a mermaid. Under the seeeaaa, under the seeaaaa, darling it's better, down where it's wetter~~ XDDD

What are you wearing today?
68's black and white "batik" uniform

What’s for dinner today?
Cap cay and fried shrimp

Why is today special?
Nggak spesial tuh tapinya =_____=

What would you like to learn to do?
Back roll! Besok olahraga UWOOOOOOOOOH D:<

What’s the last thing you bought?
nasi bakar seharga lima ribu rupiah dengan lauknya ayam goreng balado seharga empat ribu rupiah, dan dua aqua gelas seharga seribu rupiah. murah, lezat, dan mengenyangkan. dapat dibeli di kantin sebelah kiri lantai dua SMAN 68 Jakarta. (BU SAYA IKLANIN TUH BU! Besok beli lasagna gratis ya! *shot*)

What are you listening to right now?
All These Things I Hate by Bullet For My Valentine

What is your favorite weather?
Hmmm... cloudy

What is your most challenging goal right now?
Speaking French fluently *MIMPIIII*


What do you think about the person who tagged you?

.... manusia yang telah menyeret saya ke sisi lain dari dunia. *lirik Stan* =)) =))

If you could have a house totally paid for, fully furnished anywhere in the world, where would you like it to be?
Manhattan, NYC. IHIHIHIHIHI

What would you like to have in your hands right now?
LIFEBOOK FUJITSU!

What would you like to get rid of?
Internet =________=

If you could go anywhere in the world for the next hour, where would you go?

Paris! XD

Which language do you want to learn?
Mandarin, because it's like... international language after English. and Russian, because Vlada speaks Russian!!! XDDD

What do you look for in a friend?
Money *dibakar idup-idup* YA NGGAK LAH =)) err... sincerity


Who do you want to meet in person?

VLADA ROSLYAKOVA! and Jonathan Stroud


What’s your favorite type of music?

rock, classic, alternative

What’s the favorite piece of clothing in your own closet?
Dresses

Any favorite models?
YEEESSSS OF COURSE! Vlada Roslyakova, Sasha Pivovarova, Danny Schwarz, Mathias Lauridsen, and... Gemma Ward? udah ga pernah ngambilin gambar Gemma lagi setelah suka Vlada =w=a

If you had £100 now what would you spend it on?
Badan Amal dan Zakat Nasional =)) =)) =)) SAYA KAN BAIK HATI DAN PEMURAH! *dibuang ke samudra pasifik*

Favorite designer?
Alexander McQueen

Fashion pet peeve?
=w=a ?

Do you admire anyone’s style?
Blair Waldorf! :x :x :x

Describe your personal style
(MAUNYA SIH) elegan =))

Dan dengan ini, saya menitahkan Iedo, Ravi, Bajay untuk menuliskan ini di blog mereka XDDD